sdokcvE-Learning

 

 

Dapatkan Buku Spiritual, Buku Meditasi, Buku Yoga dan Buku Budaya Karya Anand Krishna

 

[Looking for English Books?, Click here!]

Selamat Datang,

Books Indonesia adalah toko online penjualan buku-buku panduan Meditasi dan Yoga buah karya Anand Krishna.

Tersedia juga buku-buku Spiritual dan Pemberdayaan diri untuk kebutuhan manusia modern dengan gaya penuturan yang mudah dipahami.

Banyak buku-buku bermutu yang bisa memandu Anda untuk meniti ke dalam diri dan mengembangkan kesadaran,  Anda juga bisa melakukan pembelian melalui WA dengan nomor: 087885111979.

 

Anand Krishna Berikan Panduan Meditasi Online

Di dalam kondisi wabah seperti sekarang ini, dimana solusi terbaik dalam mengatasi adalah dengan menjaga jarak dan membatasi interaksi secara phisik. Anand Krishna berkenan memberikan pelatihan meditasi bagi mereka yang sedang melakukan karantina mandiri #DiRumahAja, bagi mereka yang ingin mengikuti panduan meditasi yang Beliau berikan cukup duduk tegak sambil memejamkan, pastikan tulang punggung tegak agar aliran energi menjadi lancar.

Dan kemudian dengarkan bimbingan meditasi yang Beliau berikan melalui video dibawah ini, semoga melalui bimbingan meditasi yang Beliau berikan ini bisa memberikan ketangan dan kebahagiaan.

Dalam bahasa meditasi, inilah yang disebut mind synap-synap baru yang hampir permanen, sehingga manusia bertindak sesuai dengan conditioning yang ia peroleh. la diperbudak oleh conditioning tersebut dan tidak bebas lagi untuk mengekspresikan dirinya.

Tragisnya: sudah tidak bebas, dia juga tidak sadar bahwa dalam dirinya ada sesuatu yang perlu diekspresikan.

Meditasi mengantar kita pada penemuan jatidiri. Latihan-latihan meditasi akan membebaskan manusia dari conditioning yang membelenggu jiwanya. Kemudian, synap-synap baru yang masih labil, yang muncul-lenyap, muncul-lenyap adalah thoughts atau satuan pikiran. Thoughts akan selalu segar. Tidak basi seperti mind. Dengan thoughts kita bisa hidup dalam kekinian.

~ Anand Krishna

 

Lebih dalam lagi, ternyata di balik perbedaan yang tipis itu, di balik kebendaan yang tampak beda itu, sesungguhnya tiada perbedaan Jivatma atau Jiwa Individu yang menerangi tubuh saya, tubuh Anda, bahkan cacing-cacing di selokan—semua adalah sama-sama percikan, bagian dari Sang Purusa,

Gugusan Jiwa yang satu, sama, tunggal. Kemudian, Sang Purusa pun, adalah sekadar Cahaya Sang Jiwa Agung.

BERARTI, MELIHAT DAN SEBAGAINYA “SECARA INTUITIF” bukanlah menjadi peramal, “Aku bisa membaca pikiranmu.” Tidak, walau itu pun “bisa” terjadi. Tapi, bukan itu tujuan Patanjali memberikan rumusan-rumusan ini.

Menjadi intuitif berarti “melihat benda sebagai benda; Jiwa sebagai Jiwa.” Menjadi intuitif, berarti tidak terbingungkan oleh penglihatan, pendengaran, dan sebagainya; dan tidak bertindak dalam kebingungan.

~ Anand Krishna

 

Tentang

Anand Krishna

Anand Krishna Ph. D adalah seorang humanis berkewarganegaraan Indonesia keturunan India yang lahir di Solo. Beliau meraih gelar Master di sebuah universitas terkemuka di luar negeri. Pernah memimpin sebuah perusahaan garmen di Indonesia. Kini seluruh hidupnya dijalani hanya untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat Spiritual.

Lahir di Solo, Jawa Tengah, pada 1 September 1956, Anand memperoleh pendidikan awal di Lucknow, India Utara, di mana ia bertemu pembimbing spiritual pertamanya, Sheikh Baba. Orang suci itu adalah seorang penjual es sederhana yang tak dikenal di luar kawasan ia tinggal, tapi ia memainkan peran utama dalam “membentuk” Anand Krishna yang sudah akrab dengan puisi Sufi dan ajaran Shah Abdul Latief dari Sind, lewat ayahnya, Tolaram

Bekerja sambil belajar, Anand Krishna meraih gelar Master dari sebuah universitas terkemuka dan di puncak karir sebagai Direktur dan Pemegang Saham sebuah Pabrik Garment di Indonesia, ketika ia jatuh sakit. Diagnosa medis mengatakan ia menderita Leukemia akut. Dengan demikian, pada tahun 1991, pada usia 35, Anand menghadapi ancaman kematian.

Setelah berbulan-bulan mengalami penderitaan, pertemuan misterius dengan Lama Tibet di pegunungan Himalaya, dan pemulihan yang ajaib dari penyakitnya, Anand memutuskan untuk mengabdikan hidupnya untuk berbagi kebahagiaan, kedamaian, cinta dan penyembuhan.

Melalu buku-bukunya Anand Krishna berbagi pengalaman hidup melalui praktek meditasi dan yoga, Anand mengajak setiap individu untuk melakukan pemberdayaan diri untuk memperbaiki pola pikir dan pandangan hidup sehingga dapat mengisi kehidupan dengan sesuatu yang bermakna dan meraih kebahagiaan sejati.

Bangga dengan akar budayanya dari Peradaban dan Kebudayaan Sindhu yang Gemilang, yang juga dikenal sebagai Shintu, Hindu, Indus, Indies, dan Hindia – di mana Nusantara atau Kepulauan Indonesia adalah bagian dari peradaban tersebut sejak masa lampau – Anand Krishna lahir di Solo, Jawa-Tengah (Indonesia), yang oleh Śukā Nādi – lontar-lontar kuno yang sudah berusia ribuan tahun – telah diramalkan sebagai Karma-Bhūminya atau bumi di mana ia mesti berkarya.

Dr. Rajendra Prasad, Presiden pertama India ketika melihat Krishna kecil menyatakan, “Anak ini bukan anak biasa”. Ramalan itu telah menjadi kenyataan. Tinggi menjulang bagaikan Gunung Meru yang legendaris, Anand Krishna seinchi pun tak bergeming dari jalan yang ditempuhnya, terlepas dari berbagai cobaan dan guncangan yang dihadapinya.

Selain Yayasan Anand Ashram (berafiliasi dengan PBB) sebagai organisasi induk, Anand Krishna juga telah menginspirasi beberapa lembaga sosial dan pendidikan lainnya.

Presiden Indonesia keempat, K.H. Abdurrahman Wahid, mengakui kontribusinya dan berkata, “Bila kita menginginkan kedamaian, maka kita harus mendengar apa yang dikatakan Anand Krishna.”

Hingga kini dia telah memiliki warisan adiluhung hampir 170+ judul buku yang sudah tersebar lebih dari 1.5 juta eksemplar dalam 20 tahun terakhir. Banyaknya orang dari berbagai latar kepercayaan yang menghadiri ceramah-ceramahnya adalah salah satu bukti nyata perwujudan visinya tentang “Satu Bumi, Satu Langit, Satu Kemanusiaan.” – yang merupakan interpretasi dari peribahasa Sanskrit ”Vasudaiva Kutumbakam”, seluruh umat manusia adalah satu keluarga besar.

 

—————

 

Proud of his Sindhi-Indian ancestry rooted in the Glorious Sindhu Civilization and Culture, also referred to as Shintu, Hindu, Indus, and Hindia – of which Nusantara or the Indonesian Archipelago has been a part since ancient times – Anand Krishna was born in Solo (Central Java), which, as predicted by the Śukā Nādi (thousands of years old oracle), is his Karma Bhumi, his workfield.

Dr. Rajendra Prasad, the first President of India remarked upon seeing the child Krishna, “This is not ordinary boy”. The prediction has come true. Standing high as the legendary Mount Meru, Anand Krishna wavers not an inch from his course of action, inspite of all kinds of trials and turbulences.

Beside the mother Organization, Anand Ashram Foundation (affiliated with UN), Anand Krishna has inspired several other social and educational institutions.

The 4th President of Indonesia, KH Abdurrahman Wahid recognized his contributions and said, “If we want to have peace, then we must hear what Anand Krishna is saying”. 

He has a legacy of 170+ books to date with more than 1.5 million copies sold in the past 20 years. People of all faiths attending his talks is a running commentary to his vision “One Earth, One Sky, One Humankind” – his interpretation of an age old Sanskrit Maxim, “Vasudaiva Kutumbakam”, this entire world is but one big family.

 

Video

Anand Krishna

 

Anand Krishna

Hantu: Menyimak Rahasia Roh

Di dalam video yang berjudul “Hantu: Menyimak Rahasia Roh”, Anand Krishna membahas topik yang sangat menarik terkait dengan hantu. Tentu saja beliau mengupasnya dari sisi spiritual holistik, bagi yang tertarik langsung saja tonton vdieonya [klik di sini!]

 

Anand Krishna

Saraswati – Lambang Seni, Pengetahuan, dan Spiritualitas

Di dalam video yang berjudul “Saraswati – Lambang Seni, Pengetahuan, dan Spiritualitas“, Anand Krishna tokoh spiritual humanis Indonesia membahas tentang Saraswati mdalam aspek spiritual holistik [klik di sini!]

 

Anand Krishna

PERADABAN WARGA BUMI: Akar Budaya Indonesia India

Di dalam video yang berjudul “PERADABAN WARGA BUMI: Akar Budaya Indonesia India“, Anand Krishna tokoh spiritual humanis Indonesia membahas tentang peradaban Nusantara, dimana banyak buku-buku beliau yang membahas tentang hal tersebut. Bagi Anda yang ingin mengetahui tentang peradaban warga bumi silahkan simak video beliau selengkapnya [klik di sini!]

 

Anand Krishna

Moksha: Kebebasan yang Bertanggung Jawab

Di dalam video yang berjudul “Moksha: Kebebasan yang Bertanggung Jawab“, Anand Krishna tokoh spiritual humanis Indonesia membahas tentang sebuah topik yang selalu menjadi perbincangan bagi pejalan spiritual yaitu Mohsha, bagaimana sebenarnya Moksha itu? mari sama-sama kita simak penjelesan beliau dalam video ini selengkapnya [klik di sini!]

 

Setiap kali ada yang memuji atau memaki, anjing ego di dalam diri kita mendapatkan makanan, dan ia mulai menggonggong. Ya betul, bukan saja setiap kali dipuji, tetapi setiap kali dimaki. Kutipan dari Nietzsche semestinya ditambah satu alenia lagi: “setiap kali jatuh satu tingkat”. Jadi setiap naik maupun turun tingkat, anjing ego selalu menggonggong. Diberi makan ia memperoleh energi dan menggonggong girang, tidak diberi makan, ia menggonggong kelaparan. Dipuji atau dicaci, dimaki, ego menggonggong.

Adalah di bagian bawah otak yang biasa disebut medulla oblongata. Untuk diketahui, medulla adalah bagian otak yang disebut reptilian brain—berbagai jenis hewan, termasuk jenis-jenis tertentu ikan, cicak, dan buaya, memilikinya. Jadi, medulla bukanlah bagian otak yang biasa disebut neo-cortex, atau bagian otak yang memanusiakan hewan.

Berarti, ego bukanlah sifat atau sikap manusiawi. Manusia mewarisinya melalui evolusi panjang selama ratusan juta tahun.

~ Anand Krishna

Buku “Sanyas Dharma – Mastering the Art and Science of Discipleship

 

 

“Sebagai hasil (dari karma atau perbuatan baik, buruk, dan di antaranya) muncullah vasana, keinginan-keinginan atau obsesi-obsesi masa lalu, yang belum terpenuhi, mewujud sebagai kebiasaan-kebiasaan dan kecenderungan-kecenderungan.” Yoga Sutra Patanjali IV.8

Perhatikan “sifat bawaan” seseorang, perhatikan sifat bawaan diri sendiri, maka kita bisa tahu seperti apakah kita pada masa lalu.

Seorang pemalas mewarisi kecenderungan dari masa lalu. Seorang yang agresif secara berlebihan pun demikian. Dan yang di antaranya, seseorang yang tidak malas juga tidak agresif, pada masa lalunya pun seperti itu.

~ Anand Krishna

Buku “Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern

 

 

Setelah menjalani proses evolusi yang sangat panjang, manusia berhasil memiliki pikiran (mind), otak (brain), dan pancaindra (senses) yang cukup canggih, melebihi makhluk-makhluk lain di dunia ini. Hal ini merupakan berkah sekaligus serapah bagi dirinya. la memiliki otak dan pancaindra untuk mewujudkan apa yang dikehendakinya termasuk melawan dan menentang hukum alam.

Manusia memiliki kebebasan, baik untuk menyadari kemanuggalannya dengan alam semesta maupun untuk tidak menyadarinya. Ketika ia memilih untuk tidak menyadari kemanunggalannya maka ia berpikir bahwa dirinyalah yang Maha Kuasa dan dapat berbuat apa saja sesuai dengan kehendaknya. la merusak lingkungan, melawan alam, bertindak sesuai dengan keinginannya karena menganggap dirinya sebagai makhluk yang paling hebat, tinggi, spesial, dan berada di atas seluruh makhluk-makhluk lainnya. Jadi manusia memiliki kebebasan untuk memajukan diri atau menghancurkan dirinya sendiri

~ Anand Krishna

Buku “Neospirituality & Neuroscience – Puncak Evolusi Kemanusiaan

 

 

Kita tidak bisa menjadi seorang panembah. Kita hanya dapat mengungkapkan jiwa panembahan kita. Karena, sesungguhnya setiap jiwa hendak menyembah, mempersembahkan diri, kembali pada asalnya, menyatu kembali dengan Gusti Pangeran.

Jiwa, atau semangat untuk menyembah ini tertimbun dibawah keinginan duniawi yang bertambah terus setiap hari. Selain harapan, keinginan yang tak terpenuhi memunculkan juga rasa kecewa, amarah, dan sebagainya. Keinginan asal jiwa, semangat untuk manembah pun kian hari mengendap ke bawah. Lalu, bagaimana mengungkapkannya? Bagaimana membawanya ke permukaan?

Satu-satunya cara adalah dengan melakukan introspeksi diri. Apakah kita bahagia dan puas dengan hidup kita saat ini?

~ Anand Krishna

Buku “The Ultimate Learning

 

 

“Seseorang yang telah menguasai dirinya, pikirannya; dan, tidak lagi memiliki rasa kepemilikan terhadap benda-benda duniawi, walau berbuat sesuatu yang bersifat fisik murni, tetaplah bebas dari konsekuensi segala perbuatannya.” Bhagavad Gita 4: 21

Ada orang, bekerja dan selalu yang diapikirkan saya mau belimobil. Beberapa hari yang lalu saya mendengar, cerita ini saya mau membeli mobil, jadi bekerja itu dia hanya tujuannya bukan apa-apa lagi, mau membeli mobil, mau membeli mobil. Dan dia bilang saya kuatir sekali, kalau saya sudah tahu beli mobil, mau bayar uang muka, kalau ada seseorang yang sakit dalam keluarga saya bagaimana? Uang muka itu kalau kepakai bagaimana? Saya kuatir sekali. Dan kekuatiran dia bilang memuncak sampai saya itu nggak bisa kerja nggak bisa apa cuma mikirkan uang, di bank 20-an juta mau beli mobil yang harganya berapa, mikirkan terus 20 juta jangan sampai habis, jangan sampai habis. Dia bilang kemarin apa yang terjadi, anak saya kecelakaan dan sekarang dia di rumah sakit, kita nggak tahu berapa habisnya. Mungkin saya harus pinjam uang lagi.

Ini pemikiran kita, pikiran yang kacau. Jangan-jangan begini, jangan-jangan begitu. Jadi nggak ada fokus pada pekerjaan, malah yang dipikirkan, yang bukan-bukan, dan yang terpikir yang bukan-bukan itu malah terjadi. Jadi berbuatlah tanpa banyak pikiran berbuatlah yang terbaik hasilnya pasti ada.

~ Anand Krishna

 

 

 

BC