sdokcvE-Learning

SMS/WA Order: 087885111979 - Simpati: 0822 1334 3442

Format: Judul Buku, Alamat Lengkap Pengiriman (untuk penghitungan ongkos kirim) Staff kami akan menginformasikan jumlah pembayaran yang harus di transfer dan nomor reking bank tempat transfer.

Memahami Kesuksesan Secara Holistik Bersama Anand Krishna dalam Buku Total Sukses

 

Anand Krishna berbagi banyak rahasian meraih kesuksesan secara total, kesuksesan holistik di dalam buku “Total Success: Meraih Keberhasilan Sejati”. Buku tersebut membahas dan membeberkan bagaimana cara meraih kesuksesan secara holistik.

Bagi Anda yang tertarik untuk mengetahui apa itu kesuksesan holistik, berikut ini adalah sedikit kutipan buku “Total Success: Meraih Keberhasilan Sejati” buah karya Anand Krishna 

 

 

Actually, I’m an overnight success. But it took twenty years

Sesungguhnya saya berhasil dalam sekejap. Namun butuh dua puluh tahun untuk mencapainya.

(Monty Hall)

 

Rahasia Keberhasilan Napoleon Hill

Kembali ke tahun 1908… ke pertemuan Hill dengan Carnegie di ruang kerja Carnegie.

“Anda telah menerima pekerjaan saya tanpa gaji, dan saya mengapresiasi semangat Anda, maka saya akan membantu anda sedikit…”

Membantu? Apa kira-kira bantuan itu?

Ternyata secarik kertas surat, memo yang dia tulis sendiri di depan Hill.

Hill tidak perlu menunggu lama, karena memo Carnegiememang singkat. Namun isinya luar biasa…

Memo itu ditujukan kepada John D. Rockefeller, orang terkaya di seluruh dunia.

“Pembawa memo ini adalah Tuan Napoleon Hill. Saya akan berterima kasih sekali bila Tuan Rockeller dapat menyisihkan waktu untuk wawancara…”

Hill mengucapkan terima kasih dan mulai bekerja ‘tanpa gaji’.

Bagaimana dengan para motivator masa kini yang masih menganggap reward atau imbalan materiil -setidaknya pujian- sebagai pemicu utama, sebagai motivasi utama?

Apa yang dilakukan oleh Carnegie juga menyalahi aturan Sun Tze dan Kung Fu Tze yang menempatkan ‘imbalan’ pada posisi yang sangat penting (baca juga The Gita of Management oleh penulis yang sama-Ed). Anda hanya memahami Carnegie, bila bersahabat dengan Sri Krishna yang menganjurkan “berkarya tanpa memikirkan hasil” – bekerja tanpa pamrih.

 

Ah, kuno….. Apa mungkin?

Krishna memang kuno. Sudah lima ribu tahun sejak ia menasehati sahabatnya, Arjuna. Tetapi, Carnegie dan Hill massif relative modern.

 

“Berkaryalah tanpa Pamrih!”

 

Demikian seruan Krishna kepada Arjuna. Demikian pula nasihat Carnegie kepada Hill. Sekarang, seruan itu, nasehat itu sudah mulai diindahkan oleh seluruh dunia. Sebagaimana telah saya jelaskan secara panjang lebar dalam salah satu buku saya, The Gita of Management. Barat malah sudah mulai menerapkannya. Memang terlambat… Ya, terlambat 5000 tahun. Tetapi tak apa. Saat tersadarkan, saat itu pula mulai hidup baru.

Hill mengawali hidup barunya dengan tantangan penting dari Tuan Carnegie, Sang Guru. Sesungguhnya ia sudah berada di tingkat yang bisa menjawab tantangan itu. Ia telah mempersiapkan landasan yang digunakan oleh Carnegie untuk bertemu dengannya. Carnegie berada pada frekuensi tertentu. Bila Hill tidak pada gelombang yang sama, mereka tak akan nyambung. Mereka akan saling berkenalan tetapi tidak bertemu.

Berkat pekerjaan yang diperolehnya dari Carnegie, Hill akan bertemu dan berkenalan dengan banyak orang penting; John Rockefeller, Bapak Perminyakan; Thomas Eddison, Bapak Perlistrikan; Alexander Graham Bell, Bapak Telekomunikasi; George Eastman, Bapak Perfilman; Hendry Ford, Bapak Otomotif; para politisi kelas dunia seperti Theodore Roosevelt, Joseph Stalin dan masih sederet nama penting lainnya. Tetapi tidak satu pun menyamai ‘pertemuan’ nya dengan Carnegie. Pertemuan itu menjadi pengarah dan penuntun hidupnya.

Hill mesti bekerja keras selama 20 tahun untuk mengumpulkan data yang dibutuhkannya, juga menguji keyakinan Sang Guru, Andrew Carnegie. Selama itu pula, akhirnya Carnegie mengangkatnya sebagai penasehat pribadi.

Pada tahun 1928, Sembilan tahun setelah Sang Maestro meninggal, Hill merangkum seluruh hasil penelitiannya menjadi “Filsafat Keberhasilan”, sebuah rumusan untuk meraih keberhasilan sejati ala Carnegie dan Hill.

Itu bukan sekedar rumusan, tetapi penjabaran Hill sebagai suatu kursus, sehingga siapa saja dapat melatih diri untuk keberhasilan. Kursus ini awalnya disebut “Law of Success” atau hukum keberhasilan.

Pada tahun 1941, Hill akan memperluasnya kembali menjadi 7 jilid materi dengan judul “Mental Dynamite”.

 

Karya Hill yang paling popular, Think and Grow Rich merupakan intisari dari seluruh pemikirannya. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, buku ini merupakan all time best seller, hingga hari ini pun masih terbit dalam berbagai edisi.

Hill tidak pernah mengaku sebagai “pemcipta” materi tersebut, tetapi hanya sebagai “penemu”. Ia berterima kasih kepada mentornya, Andrew Carnegie. Pun mengaku belajar dari buku The Master Key System karangan Charles F. Hannel yang terbit lebih awal, ketika Hill masih melakukan penelitian.

Salah satu pelajaran penting yang kita peroleh dari kehidupan Hill adalah:

 

Kejujuran, yang membuatnya tidak angkuh, dan tidak sombong.

 

Bila ia belajar sesuatu dari seseorang, ia tidak menyembunyikan hal itu. Tidak seperti para motivator yang merasa sudah sempurna sejak lahir, sudah tahu segalanya sejak lahir.

Hingga beberapa tahun yang lalu, seorang motivator yang dibesarkan oleh pejabat konyol demi kepentingan probadi sering tampil di layer televisi sebagai mentalis. Dalam Bahasa tempo-doeloe “penyulap”. Ya, seperti Deddy dan lain-lain. Deddy punya keberanian untuk mengaku sebagai mentalis, sebagai ahli hipnotis. Sang motivator kita tidak memiliki keberanian maupun kejujuran seperto itu. Ia berhasil membangun kerajaannya berkat tipu muslihat dengan ilmu yang dikuasainya. Sampai kapan? Keberhasilannya bukanlah keberhasilan sejati.

Keberhasilan sejati merupakan hasil kerja keras. Inilah kebahagiaan yang langgeng.

Keberhasilan sejati bukanlah hasil dari tipuan yahuut.

Sekali waktu saya ditantang oleh seorang peserta workshop: “Anda selalu membanggakan Budaya dan Bangsa Indonesia. Adakah satu pun contoh yang dapat Anda berikan dari local sendiri? Adakah seorang Carnegie di antara kita? Bila ada, kenapa tidak menggunakan hidup mereka, pengalaman mereka sebagai contoh? Kenapa menggunakan contoh orang-orang asing?”

Secara jujur, saya mesti minta maaf. Dan, saya berjanji akan menjawab pertanyaannya setelah makan siang. Saya merenung lama. Tidak mendapatkan satu pun contoh.

Banyak orang kaya, tetapi apakah kekayaan saja dapat dijadikan tolok ukur bagi kebahagiaan sejati?

  • Kaya, tapi kekayaannya adalah hasil korupsi dan kolusi.
  • Kaya, tapi tingkah lakunya tidak karuan.
  • Kaya, setekah memiliki tahta.

Ada juga yang kaya berkat kerja keras, tetap setelah menjadi kaya malah tambah serakah dengan menanamkan modalnya dalam bidang apa saja, termasuk yang tidak ada hubungannya dengan bidan yang ditekuninya sejak awal. Penanaman modal tersebut semata untuk mengejar keuntungan lebih besar. Padahal dalam bidang yang ditekuninya itu masih ada kemungkinan untuk berinvestasi sehingga bahan baku yang dipakainya tidak perlu diimpor lagi.

Ada lagi yang kaya, tetapi kekayaan itu mengubahnya menjadi pengecut. Dulu pemberani. Bias bersuara, sekarang membisu.

Kaya dengan meracuni orang…. Kemudian, sebagian uangnya disedekahkan untuk membiayai konser dan olah raga, untuk menghibur orang-orang yang telah diracuninya. Kekayaan macam apa pula itu?

“Rokok adalah slow poison, masak kamu tega-teganya masih berurusan dengan rokok? Masih juga memproduksi rokok, padahal sudah bias meninggalkan bidang itu. Dan, memasuki bidang lain yang lebih berguna bagi anak bangsa, bagi kesehatan mereka.” Seseorang menegur teman lama, juragan rokok negeri ini.

Sang juragan tersenyum: “ Slow poison, Bung…Kau memang benar. Siapa yang mau cepat mati?”

Urusan kesehatan pun menjadi gurauan. Luar biasa!

Adakah seorang pengusaha berhasil di antara kita yang memiliki pemikiran seorang Hill?

Saya merangkum beberapa butir pemikiran beliau:

 

Manusia mesti memiliki kebebasan untuk berpikir dan berkarya.

System pemerintahan kita sejak awal tidak memberi kebebasan seperti itu. Saya setuju, awalnya barangkali kita belum siap. Tetapi, sekarang, setelah 63 tahun meraih kemerdekaan, apakah tetap belum siap?

Dulu, pemerintah membatasi gerak piker dan gerak karya Manusia Indonesia. Sekarang, tugas iu diambil alih oleh para preman dan penjahat.

Kebebasan diinjak-injak atas nama kebebasan. Seluruh bangsa dibingungkan oleh definisi demokrasi yang sudah salah kaprah. Padahal, menurut Hill:

 

 Demokrasi sebagai system pemerintahan yang bertanggung jawab adalah keadaan yang dibutuhkan oleh setiap oleh setiap warga negara untuk mengembangkan bakatnya secara bebas, berpikir dan berkarya secara bebas, dan meraih keberhasilan sejati.

 

Hill tidak anti-kapitalisme, tetapi kapitalismenya tidak sama dengan Rockefeller, Rockefeller mengatakan bahwa kesetaraan dan kebebasan tidak bisa berjalan Bersama, “Setiap orang mesti memiliki kebebasan untuk bersaing. Yang kalah dalam persaingan, ya kalah.” Bagi Rockefeller, mereka yang menang jelas tidak setara dengan yang kalah. Bila mau disetarakan, ikuti saja system komunis. Untuk apa kebebasan? Untuk apa bersaing?

 

Kapitalisme Hill adalah kapitalisme penuh kasih. Mereka yang berhasil mesti memikirkan nasib mereka yang tidak atau kurang berhasil.

Mereka yang beruntung mesti bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mengangkat derajat mereka yang kurang beruntung.

 

Bagi Hill, keberhasilan sejati tidak dapat dipisahkan dari empat factor utama, yaitu:

 

  • Kebebasan manusia untuk berpikir dan berkarya.
  • Pemerintahan yang menunjang dan menjunjung tinggi kebebasan tersebut dengan menerapkan system pemerintahan yang demokratis dan bertanggung jawab.
  • Perekonomian yang tidak mementingkan diri sendiri saja.
  • Keharmonisan antara berbagai elemen dalam masyarakat.

 

Urutan ini pemberian saya, bagi Hill – dan saya setuju dengan beliau – keempat-empatnya sama-sama penting. Tidak ada yang lebih atau kurang penting . . . . .

 

Bagaimana? Sangat menarik bukan!

Bagi yang masih penasaran dapat langsung membuka dan menelusuri lembar demi lembar buku “Total Success: Meraih Keberhasilan Sejati” buah karya Anand Krishna.

Bagi yang ingin memberli buku tersebut, bisa menghubungi WA: 087885111979

 

 

 

Newsletter

BC