sdokcvE-Learning

SMS/WA Order: 087885111979 - Simpati: 0822 1334 3442

Format: Judul Buku, Alamat Lengkap Pengiriman (untuk penghitungan ongkos kirim)

Staff kami akan menginformasikan jumlah pembayaran yang harus di transfer dan nomor reking bank tempat transfer.

new-christ-500x500Rhonda Byrne, penulis buku The Secret (2006), mengaku terinspirasi karya Wallace D Wattles yang berjudul The Science of Getting Rich (1910). Buku tersebut merupakan buku ketiga Wattles. Karya perdana Wallace ialah A New Christ (1900).

Pada saat itu, Partai Sosialis di Cincinnati, Ohio, mengundangnya berceramah. Lantas, naskah pidato bertajuk Jesus: The Man and His Works itulah yang dibukukan oleh panitia. Melalui karya ini, Wattles memperkenalkan sisi lain kehidupan Yesus. Buku A New Christ, Jesus – The Man and His Works merupakan terjemahan, edit ulang, dan catatan Anand Krishna Ph.D.

Pada bagian kata pengantar, Reverend Mindawati Peranginangin Ph.D turut memberi sekapur sirih. Ia seorang pendeta perempuan kondang. Uniknya, Rev Mindawati tak hanya melayani umat Kristen, ia berinteraksi pula dengan sesama umat beragama lain. Tepatnya di Jakarta, Medan, Darwin, dan beberapa kota terpencil di Negeri Kanguru. Buku ini lebih banyak mengisahkan pengalaman Wattles.

Sejak awal, ia tidak tertarik dengan bangunan megah. Tapi, tatkala ia berada di tengah kerumunan anak-anak jalanan, di pasar, dan di tengah para pekerja pabrik yang bersimbah peluh, secara otomatis hati Wattles tergetar. “Ketika berhadapan dengan mereka yang tetap berkarya walau menderita; mereka yang tetap mencintai walau yang dicarinya belum ketemu, kepala saya tertunduk dengan sendirinya” (halaman 44).

Bahkan, Wattles berani melukiskan adegan Yesus dan anak-anak kecil secara berbeda. “Yesus dari Nazareth berada di tengah kerumunan buruh kasar. Anak yang digendongnya itu putri keluarga miskin.” Lebih lanjut, karena orang tuanya tak berpunya, anak itu jelas tidak bersih.

Rambutnya tak pernah disisir. Badannya dipenuhi bisul dan berbau tak sedap. Fakta historis ini merupakan cerminan masa gelap peradaban di Galilea. Tak hanya berkeluh-kesah, Wattles juga berbagi solusi konkret. Ia memperoleh inspirasi dari seorang peserta ceramah. Gadis miskin dan tidak berpendidikan pula.

Menurut gadis itu, keadaan dunia kita saat ini ibarat sedang diangkat dongkrak, “Orang kecil seperti diriku adalah gagang dongkrak tersebut. Rakyat miskin mengangkat dunia ini.” Dalam menafsirkan Yesus dan ajarannya, Wattles menggunakan metode naratif. Ia mengutip ayat-ayat Injil. Wallace tak begitu memperhatikan konteks (sitz im leben). Baginya, semua kisah dinilai sama.

Tidak ada pembedaan apakah itu tulisan dari: penulis Injil, Yesus sendiri, atau jemaat Kristiani awal. Berbekal kepingan-kepingan itulah Wattles menyusun mozaik sosok Yesus. Kendati demikian, buku ini layak menjadi bacaan alternatif jelang Natal. Isinya niscaya mendorong transformasi, baik pada ranah personal maupun di lokus sosial.

T. Nugroho Angkasa S.Pd
Alumnus Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Sanata Dharma
dan Aktivis National Integration Movement Yogyakarta
Blog: local-wisdom.blogspot.com

Newsletter

BC