sdokcvE-Learning

SMS/WA Order: 087885111979 - Simpati: 0822 1334 3442

Format: Judul Buku, Alamat Lengkap Pengiriman (untuk penghitungan ongkos kirim) Staff kami akan menginformasikan jumlah pembayaran yang harus di transfer dan nomor reking bank tempat transfer.

“Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern” Adalah Buku Yoga Bagi Praktisi Yoga Buah Karya Anand Krishna

 

Di dalam buku “Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern”, Anand Krishna mengupas secara mendalam terkait dengan Yoga. Dimana di dalam buku ini Beliau memaparkan tentang filosofi Yoga agar mereka yang mempelajari Yoga dapat memahami apa itu Yoga.

Berikut ini sedikit kutipan isi dari buku, mari sama-sama kita simak penjelasan Beliau tersebut:

 

 

 

“Atau, dengan cara bermeditasi—memusatkan kesadaran pada apa yang betul-betul dikehendaki (dan diyakini).”

 

Saya masih ingat betul, sekitar awal tahun 1970-an ketika pertama kali membeli terjemahan sutra-sutra ini dalam Bahasa Inggris—sebuah transkreasi indah oleh Shree Purohit Svami, yang sesungguhnya mudah dipahami—, saya tidak selesai membacanya. Baru membaca beberapa halaman, saya meletakkan buku itu, dan melupakannya selama beberapa tahun.

 

SAYA BARU BISA MENGAPRESIASI SUTRA-SUTRA ini setelah mengenal Yoga sebagai laku sekitar 1974-75. Saat itu, kebetulan ada seorang Guru yang berkunjung ke Indonesia. Penjelasannya tentang dasar-dasar Yoga sangat jelas, dan tidak hanya mudah dipahami, tetapi juga mendorong saya mulai melakoni “kembali” Yoga sebagai Laku, latihan, sekaligus gaya hidup.

Setelah itu pula, ketika saya membaca ulang Sutra-sutra ini, maka semua menjadi terang benderang. Sutra-sutra ini—percaya atau tidak—rasanya terlindungi oleh Jiwa Patañjali. Ya, oleh Jiwa Sang Begawan. Tiada seorang pun yang dapat memahami sutra-sutra ini tanpa melakoni Yoga, ia hanya menipu diri sendiri. Apalagi jika ia menganggap dirinya sudah menguasai Yoga dan bisa menjelaskan kepada orang lain—ia hanyalah membingungkan. Tiada suka kebaikan yang dapat dari orang seperti ini.

Denga latar belakang da, tepatnya, “dasar keyakinan” seperti ini, marilah kita menyelami Sutra ke-39 ini.

“ATAU, DENGAN CARA BERMEDITASI—MEMUSATKAN KESADARAN—PADA ABHIMATA.” Umumnya, abhimata diterjemahkan sebagai “apa yang dikehendaki atau diinginkan”. Titik. Tidak tepat. Kata mata tidak hanya merujuk pada apa yang diinginkan, tetapi juga pada apa yang “diyakini”.

Sekadar berkeinginan dan berkehendak saja tidak cukup. Apakah kita meyakini dapat meraih apa yang diinginkan? Ini penting.

Dalam salah satu episode Mahābhārata, Duryodhana ingin sekali menjadi raja. Keinginannya, kehendaknya kuat sekali. Namun, ia tidak yakin. Ia sadar bila dari segi kemampuan, sepupunya—Para Pāndava—jauh lebih kompeten, lebih mampu. Maka, karena tidak yakin, ia pun mulai menggalang kekuatan dari luar. Ia membeli loyalitas Karna, seorang Satria, yang sesungguhnya adalah saudara kandung—saudara seibu—Pāndava, dengan cara menganugerahinya kekuasaan atas salah satu wilayah dalam kerajaan. Selain itu, ia pun berjanji akan mengangkat Aśvatthāmā—putra Guru Drona—sebagai Menteri, “Nanti, jika aku menjadi raja.” Dengan cara itu, ia hendak mendapatkan dukungan gurunya—Guru Drona, ayah Aśvatthāmā.

Tanggapan, Guru, Resi Drona, setelah mendengar pengakuan putranya, sangat tegas, “Duryodhana tidak akan menjadi Raja. Kalaupun menjadi raja, ia tak akah bertahta lama.”

“Kenapa?” tanya Aśvatthāmā, “Apakah Ayah tidak senang kalua saya menjadi Menteri?”

Drone menjawab, “Bukan karena itu. Alasannya, karena Duryodhana sendiri tidak yakin bila ia akan menjadi raja. Seseorang yang yakin akan menjadi raja, tidak menjual janji. Tidak menjual harapan. Seseorang yang yakin, percaya diri—percaya pada kemampuannya sendiri—, tidak akan menggalang dukungan dengan cara mengiming-imingi orang dengan janji-janji seperti itu.”

BERARTI, “KEYAKINAN” ADALAH KATA-KUNCI. Tanpa keyakinan, keinginan saja, kehendak saja tidak menghasilkan apa-apa.

Apakah kita yakin dapat mencapai Samādhi? Apakah kita yakin bisa meraih keseimbangan diri? Bisa cerah, tercerahkan? Atau, yakin pada sesuatu atau apa saja? Tanpa keyakinan, kita boleh membanting tulang dan bekerja keras seperti kerbau—hasilnya sudah pasti tidak seberapa. Itu pun kalua ada hasilnya.

Kenapa demikian?

Karena “keyakinan” ibarat energi, bensin, kekuatan yang tidak hanya mendorong kita untuk bekerja keras, tetapi juga untuk mengembangkan kreativitas, efisiensi, dan sebagainya. Tanpa aliran energi keyakinan, kendaraan-diri berjalan dengan menggunakan bahan bakar serep. Mau berjalan berapa lama? Bahan bakar serep, cadangan, tidak bertahan lama. Habis cadangan, berhenti pula kendaraan.

Keyakinan ibarat aliran bahan bakar, gas, atau listrik tanpa henti, tidak terputuskan. Energi, yang mengalir terus-menerus. Energi keyakinan inilah yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.

 

 

Bagaimana?

Sangat menarik bukan!

Bagi yang masih tertarik untuk mempelajarinya, bisa membuka lembaran buku “Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern” tersebut.

Dimana banyak mutiara pengetahuan yang Beliau bagikan di dalam buku tersebut, semoga apa yang Beliau sampaikan bisa menjadi inspirasi bagi kita semua untuk berkarya di dalam kehidupan ini.

 

Newsletter

BC