sdokcvE-Learning

SMS/WA Order: 087885111979 - Simpati: 0822 1334 3442

Format: Judul Buku, Alamat Lengkap Pengiriman (untuk penghitungan ongkos kirim) Staff kami akan menginformasikan jumlah pembayaran yang harus di transfer dan nomor reking bank tempat transfer.

Tips Atasi Rasa Takut Ala Shankara Seperti Yang Disampaikan Oleh Anand Krishna

 

Rasa takut adalah hambatan yang paling sering menganjal seseorang dari kesuksesan, rasa takut jualah yang sering menjadi batu sandungan seseorang di dalam kehidupan ini. Anand Krishna mengetahui hal tersebut, karenanya Beliau memberikan banyak cara dalam mengatasi rasa takut di dalam buku-buku Beliau.

Kembali di dalam buku “Total Success: Meraih Keberhasilan Sejati Beliau membahas tentang rasa takut, dan memberikan rumusan bagaimana mengatasi rasa takut tersebut.

Kali rumusan yang Beliau bagi berasal dari Shankara.

Bagi yang ingin mengetahui lebih jauh lagi tentang pemikiran Shankara, bisa membaca buku Anand Krishna yang berjudul “5 Steps to Awareness: 40 Kebiasaan Orang tercerahkan” dimana dalam buku tersebut Beliau mengulas pemikiran Shankara dengan mendalam.

Sekarang mari kita simak penjelesan Beliau terkait dengan cara mengatasi rasa takut  dari dalam buku “Total Success: Meraih Keberhasilan Sejati . . . .

 

 

The greatest enemy is fear;

be Fearless!

Rasa takut adalah musuh utama;

Jangan takut!

 

Setelah bertemu dengan Tuan Hill, saya tidak mengajak Anda untuk bertemu dengan para penerusnya. Saya malah mengajak Anda untuk bertemu dengan Shankara, yang hidup lebih dari 1000 tahun sebelum Hill. Kenapa? Karena, penemuan Hill persis sama seperti penemuan Shankara. Musuh utama manusia yang diidentifikasi oleh Hill masih sama dengan yang pernah diidentifikasi oleh Shankara.

Kenapa kita tidak berhasil? Karena kita ragu, kita bimbang, kita takut. Ya, rasa takut adalah induk dari segala macam rasa takut yang dapat menggagalkan manusia dalam hidup ini.

Saya sudah membahas hal ini secara rinci dalam salah satu buku yang terdahulu,  Fear Management: Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri

Tentang Shankara sendiri, saya telah mengulas mahakaryanya: Bhaja Govindam, Narada Bhakti Sutra, dan yang terkait dengan pembahasan kita kali ini, yaitu 5 Steps to Awareness dan Life Workbook. 

Membaca buku-buku tersebut, Anda akan menemukan cara untuk mengatasi rasa takut. Rasa yang satu ini bukanlah sekadar emosi biasa. Ia adalah sifat yang kita warisi dari evolusi Panjang sejak amoeba, warisan yang tidak menguntungkan bagi manusia. Ia merupakan residue, sisa-sisa dari insting hewani kita.

Seorang penakut dapat dimanipulasi dan dikuasai oleh siapa saja dan diperbudak olehnya. Inilah yang terjadi saat ini. Kita diperbudak oleh orang-orang tertentu, bahkan oleh Lembaga-lembaga yang sering menyandang gelar nama besar agama dan menggunakan dalil-dalil agama. Tentunya, dalam hal ini ajaran agama diselewengkan dan disalahgunakan untuk menciptakan rasa takut, dan bukan untuk membebaskan diri kita dari rasa takut, yang merupakan tujuan utama nilai spiritual yang terkandung dalam semua agama.

Jangan takut kalah; jangan takut gagal; jangan takut jatuh! Setiap kekalahan, setiap kegagalan, dan setiap kejatuhan adalah pengalaman yang sangat berharga. Bangkitlah segera. Janganlah mengulangi kesalahan yang sama. Gunakan pengalaman-pengalaman itu untuk melanjutkan perjalanan dan raihlah keberhasilan sejati yang menjadi takdirmu!

Shankara menjelaskan langkah-langkah untuk membebaskan diri kita dari rasa takut. Ia memberikan cara-cara jitu untuk mencabut rasa takut itu dari akarnya.

Bagi Shankara, alas an utama yang membuat kita menjadi penakut adalah “Kekurangtahuan tentang diri”. Maka, ia pun berseru:

 

  1. Know Thyself: Kenali Dirimu!

Lakukan inventarisasi terhadap diri. Apa yang menjadi modal utamamu? Ruang, waktu, dan napas: ruang di mana kita dapat bergerak; waktu yang kita butuhkan untuk berkarya; napas yang adalah hidupmu, energimu. Setiap orang memiliki tiga hal ini. Tanpa ketiga hal ini, kita tidak bias berbuat apa-apa. Ada waktu, ada ruang, tapi tidak ada napas. Apa yang kita dapat kita lakukan? Ada napas, tapi tidak diberi ruang untuk bergerak, apa pula yang dapat kita lakukan? Batasi gerak seseorang, penjarakan dia dalam bui dengan jeruji besi atau belenggu pikirannya, ia pun tidak bisa berkarya.

Napas di sini adalah life force atau Prana yang sering disalahartikan dan dikaitkan melulu dengan kesehatan fisik. Prana adalah energi penggerak dalam hidup kita, termasuk tetapi tidak terbatas pada pikiran, emosi, cara kita merespon terhadap suatu situasi dan lain sebagainya.

Setelah melakukan inventarisasi seperti itu, kangkah berikutnya adalah menemukan potensi diri. Bila kau memiliki potensi sebagai pedagang, apakah pekerjaanmu sekarang menunjang potensimu itu? Jangan memasuki dunia politik, bila kau memiliki jiwa dagang. Sebaliknya, jangan memilih dagang bila lebih suka dengan dunia politik.

Kenali dirimu juga berarti mengenali kelemahan dan kekuranganmu. Berupayalah dengan sungguh-sungguh untuk mengatasinya. Bila kau membutuhkan keahlian, belajarlah dari para ahli.

Jadi, ada tiga yang mesti diambil untuk dan dalam rangka mengenal diri:

  • Self Inventory atau Inventarisasi Diri. Menggunakan modal dasar kita secara efisien, yakni ruang, waktu, dan napas/energi.
  • Know Thy Potentials and Limitations: Menemukan potensi diri, kemampuan serta keterbatasan, kelemahan, kekurangan di dalam diri……. Dan,
  • Overcome the Limitations by Acquiring Necessary Skills: Mengatasi keterbatasan diri dengan mengasah ketrampilan yang dibutuhkan, karena sesungguhnya tidak ada keterbatasan yang tidak dapat diatasi.

 

  1. Right Company: Pergaulan yang Baik

Yang dimaksud adalah pergaulan yang menunjang kemajuan dan pengembangan diri. Janganlah bergaul dengan mereka yang justru melemahkan dirimu dan mematahkan semangatmu. Janganlah bergaul dengan yang kurang atau tidak percaya diri. Itu akan mengendurkan kepercayaanmu pada diri.

Bila kau sudah tumbuh menjadi pohon yang lebat, maka siapa pun boleh berteduh di bawahmu. Tetapi, bila kau masih berupa benih yang akan berkembang, hindari segala sesuatu yang tidak menunjang perkembanganmu.

Bergaullah dengan mereka yang lebih tinggi, lebih besar, dan lebih luas darimu. Tentunya yang dimaksud bukanlah ketinggian dan kebesaran badan, tetapi ketinggian semangat, kebesaran Jiwa, dan keluasan pikiran.

Pergaulan dengan mereka yang lebih besar tidak berarti membenci mereka yang lebih besar tidak berarti membenci mereka yang kecil. Mereka yang kecil, mereka yang rendah, mereka yang lemah, justru membutuhkan bantuan Anda. Tapi, bagaimana Anda dapat membantu bila Anda sendiri masih membutuhkan bantuan?

Jangan arogan, jangan sombong, jangan angkuh:

 

Never look down on anybody unless you’re helping him up. 

Jangan melihat rendah siapa pun jua, kecuali dengan niat untuk membantunya.

(JESSE JACKSON)

 

Tidak melihat atau menganggap rendah siapa pun juga. Bagus, baik, tetapi ketika kau ingin membantunya, maka kerendahan mesti dipahami sebagai kerendahan.

Para pemikir positif menolak segala sesuatu yang rendah, “Tidak ada tuh yang Namanya rendah atau tinggi. Semua sama.”

Dengan cara itu, ia membebaskan diri dari tanggunga jawab social. Dalam arti kata lain, ia menolak untuk membantu mereka yang berada di bawah, karena ia tidak mau melihat ke bawah.

Bila kau memang tidak mau membantu, tidak perlu melihat ke bawah. Pakailah kaca mata kuda dan lihat terus ke depan. Tetapi, bila kau ingin membantu, lihatlah ke bawah. Banyak orang membutuhkan uluran tanganmu.

Bodhisatva Avalokiteshvara melihat ke bawah. Ia mendengar jeritan mereka yang menderita, makai ia menangguhkan nirvana, moksha, atau surge bagi dirinya. Ia berjanji, “Sebelum kuhapuskan setiap tetes air mata dari setiap orang, aku tidak mau memasuki alam tanpa duka. Biarlah aku berada di sini, di alam duka, untuk melayani mereka yang sedang berduka.”

Mahatma Gandhi adalah seorang Bodhisatva. Demikian pula Bunda Theresia, Martin Luther King, Jr., dan para avatar, mesias serta para nabi kita.

Terpengaruh oleh “pikiran positif” para penasihat dan motivator yang tidak bisa menghadapi energi negativitas dan mengubahnya menjadi kreativitas, seorang pejabat masih saja mau berpikir positif. Di tengah krisis global pun, kita masih mengharapkan rakyat yang menderita dan sudah kekurangan dalam segala hal, untuk tetap berpikir positif. Ya, gimana dong? 

Piker positif sih boleh-boleh saja, tapi bagaimana dengan perut keroncongan? Berpikir positif sah-sah saja, bagaimana dengan pekerjaan yang tidak menentu?

Hai petinggi, hai pejabat, lihatlah ke bawah. Urusi dulu mereka yang gajinya jaiuh lebih rendah dari gaji supir para wakil rakyat dan Menteri, apalagi presiden dan wakil presiden. Bebaskan dirimu dari mitos dan ilusi positif. Hadapilah negativitas hidup. Negative itu ada, dan riil, fakta. Kau tak dapat menghindarinya.

Bila kita bersahabat terus dengan mereka yang hanya mau berpikir positif, kita menjadi malas dan makin tidak peka terhadap penderitaan orang lain. Kita menjadi bebal terhadap keadaan negara dan bangsa. Inilah yang sedang terjadi di negeri kita saat ini. Kita telah menjadi bangsa yang cuek, tidak peduli. Kita hanya peduli terhadap kepentingan diri, kantong sendiri, jabatan, dan kursi kita.

Baergaullah dengan mereka yang memiliki sikap positif, bukan mereka yang hanya berpikir positif. Sikap hidup positif, atau lebih tepatnya holistic, menerima positif dan negative. Sikap hidup seperti itu yang kemudian bisa menilai, menimbang, dan melakukan apa yang mesti dilakukan.

Bergaulah dengan mereka yang memiliki semangat. Jangan bergaul dengan mereka yang loyo, tanpa semangat – kecuali kau memiliki kemampuan untuk mengubah keadaan mereka.

Saya menyimpulkan butir ke dua ini sebagai berikut:

  • Team with People with High Sense of Responsibility: Begaulah dengan mereka yang memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. Mereka yang selalu bersemangat, tidak loyo, tidak bersemangat dan mencari aman di balik dalih positive thinking, tetapi mereka positif dalam pengertian holistic terhadap hidup ini.
  • Sense of Responsibility must be Defined as Corporate and Individual National Responsibility: Tanggung jawab bukanlah terhadap masyarakat saja, tetapi terhadap bangsa secara utuh.

Tentang Corporate National Responsibility ini saya akan mengulas dengan lebih rinci dalam buku terpisah.

Saat ini banyak individu dan perusahaan yang menggembar-gemborkan Corporate Social Responsibility. Dengan menyedekahkan sekian persen dari uang mereka atau membayar pajak, mereka piker sudah berbuat cukup terhadap masyarakat. Ya, terhadap masyarakat barangkali, itu pun terhadap sebagian masyarakat. Tidak cukup. Apakah yang kita lakukan – usaha, pekerjaan, ibadah, amal saleh, dan perjalanan kita ke tempat-tempat suci – itu berguna bagi bangsa dan negara?

Bergaulah dengan mereka yang sudi melayani Ibu Pertiwi dan setiap anaknya, entah dia beragama apa, bersuku apa, berbahasa apa, tinggal di mana, dan memiliki kepercayaan apa.

Kita membutuhkan para pedagang, para politisi, para diplomat, pejabat, professional, pendidik dan …….. dan…….. yang berjiwa nasional. Kita butuh orang-orang yang bangga mengaku diri sebagai Bangsa Indonesia, dan menempatkan identitas diri itu sebagai satu-satunya identitas dalam hal bermasyarakat.

Identitas agama adalah urusan kita dengan Yang Maha Kuasa. Hanya Ia Yang Maha Tahu seberapa beragamanya jiwa kita.

Status Pendidikan, akademis, jabatan, dan lain sebagainya adalah atribut tambahan. Atribut pemberian Sang Keberadaan adalah identitas diri kita sebagai Orang Indonesia, berbangsa Indonesia, bertanah air Indonesia, berbahasa Indonesia.

Seorang wanita, yang “dianggap” tuna Susila oleh masyarakat yang “sok susila” pun memajang gambar Sang Bapak Bangsa di ruang prakteknya.

Penulis otobiografi beliau berkomentar, “Masak?”

Sang Bapak tersenyum, “Saya adalah Bapak bagi semua. Tak ada salahnya bila ia memasang gambar saya.”

Kita mesti bergaul dengan orang-orang yang memiliki rasa kebangsaan seperti itu.

Dari segi sumber alam danbio-diversity, jenis tumbuh-tumbuhan, mineral, dan lain sebagainya, kekayaan kita hanya tertandingi oleh Brazil. Tetap saja kita tidak bangga akan kekayan itu. Kita tidak bisa  mengolahnya dengan baik. Kita membiarkan orang asing menjarah kekayaan alam kita. Janganlah bergaul dengan saya, bila saya tidak memiliki kemampuan untuk mengolah kekayaan alam kita.

Seorang pengusahs besar dari Jepang pernah berkelakar: “Kalau boeh, saya mau menukar Jepang dengan negerimu. Ambilah seluruh kekayaan kami, devisa kami, infrastruktur kami, industri kami, tabungan kami di luar negeri, ambil semmuanya – dan berilah negerimu kepada saya.”

Pengusaha itu yakin betul bahwa dalam 5 tahun saja, ia tidak hanya akan memperoleh kembali kekayaannya, bahkan akan menjadi negara terkaya di seluruh dunia, melebihi raksasa-raksasa yang ada saat ini. Dia tidak berkhayal. Dia tidak sedang berandai-andai. Dia jujur.

Kita bukanlah negara yang berhasil seperti disampaikan oleh para pemimpin kita saat ini. Kita adalah negara yang gagal. Kegagalan ini mesti membuat kita malu sedemikian rupa, sehingga kita bangkit dengan semangat baru untuk mengubahnya menjadi keberhasilan.

Bergaulah dengan mereka yang sudi, yang peduli, yang cukup berani untuk menerima kagagalan diri dan memiliki kemampuan untuk mengubahnya menjadi keberhasilan.

Bergaulah dengan mereka yang memiliki sesuatu yang berharga dan bernilai tinggi—yaitu rasa percaya diri, pikiran yang jernih dan luas, semangat yang membara, jiwa yang lembut tapi dahsyat!

Pergaulan yang baik adalah pergaulan yang tepat, yang berguna, yang menunjang perkembangan diri kita, kemajuan kita. Pergaulan yang dapat menambah pada kemampuan kita, dan tentunya kesadaran kita…….

 

Buku Panduan Atasi Rasa Takut

Buku Fear Management: Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri adalah buku yang membahas tentang rasa takut dan apa yang menjadi sumber rasa takut, dilam buku tersebut Anand Krishna mengupas hingga mendalam tentang rasa taku dan bagaimana kita bisa mengenali dan mengatasinya.

Selama ini rasa takut kita terima sebagai sesuatu yang mutlak, tak terhindarkan. Psikologi modern bahkan menegaskan rasa takut sebagai sumber energy untuk fight or flight, melawan atau melarikan diri. Ketika kita menghadapi bahaya, rasa takut secara spontan mendorong kita untuk melawan atau melarikan diri.

Rasa takut atau FEAR sebenarnya adalah False Emotion Appearing Real – Emosi palsu yang Terkesan Nyata. Senagai mahluk yang lebih mulia daripada binatang, kita dapat mengelola rasa takut kita untuk mencapai puncak evolusi diri kita.

 

Meditasi adalah sumber kekuatan yang mampu memberdayakan diri, meditasi akan mampu menumbuhkan kekuatan di dalam diri untuk mengalahkan…. bahkan melampaui rasa takut.

Bagi Anda yang ingin mempelajari meditasi, maka Anda bisa membaca buku “Ananda’s Neo Self Empowerment – Seni Memberdaya Diri bagi Orang Modern” buah karya Anand Krishna

Buku tersebut berisikan pembahasan panduan meditasi yang komprehensif cocok untuk kebutunan pemula ataupun praktisi meditasi.

 

Untuk pembelian buku-buku buah karya Anand Krishna bisa menghubungi WA Order: 087885111979

 

Newsletter

BC